Sabtu, 06 April 2013
Beginilah Cara Kami Menggugurkan Kecemasan
segera,
berkubang dalam amnesia opera layar kaca
tersedak kegembiraan palsu, mabuk air mata
berjudi rapalan mantra dukun buta
di atas meja, nasib baik berpihak pada siapa dikendakinya
: kami hamil kecemasan
tu(h)an,
kami menuntut, jelmalah kau sebungkus permen coklat
dikulum tiap kali terbakar asam lambung,
setelah kotak kaca bosan berteriak
tentang jembatan rusak dan harga minyak merangkak
orang-orang berkain seragam antri menunggu berkat
lainnya meleleh di jalan raya, memilih takdir
mati kelaparan atau tewas diberondong senapan
barangkali yang terakhir mati terhormat,
dimuat koran halaman depan dengan gambar tubuh penuh lubang
: janin kecemasan, menendang diam-diam
tu(h)an,
kami menuntut, sebab doa dan kepatuhan tak memberi pekerjaan
sementara para pendakwah hanya berkebun ayat,
membagi buahnya sebagai ketakutan
kutukan dosa dan tuduhan durhaka
orang-orang tua lelah, menjemput maut di rumah
anak muda pemarah, menyulut kota dengan caci maki
sesekali membakar ban di tengah jalan
membikin mata tu(h)an perih merah
: ya, beginilah cara menggugurkan kecemasan.
neraka tingkat berapa yang lowong untuk kami?
#Requiem bagi Rocker "M.A "
Sabtu, 09 Februari 2013
Ketika kelelawar meramal
Kalau menyebut nama Kabupaten Soppeng, maka yang terbayang di pelupuk mata adalah sejumlah kelelawar yang bergelantungan di atas pohon di sejumlah wilayah kota Soppeng, khususnya di Watansoppeng.
Nah.. , begitu memasuki wilayah Kota Soppeng maka akan diperhadapkan pada menyengat khas kelelawar. Ditambah.dengan pemandangan kelelawar - kelelawar yang tengah tertidur sambil bergelantungan di dahan - dahan pohon, seakan tidak terusik dengan ramainya manusia manusia yang di sibukkan oleh aktivitas keseharian.
Begitu rembang petang menuju malam, kelelawar - kelelawar ini mulai terbangun dari tidurnya dan siap mengepakkan sayap terbang mencari makan ke berbagai penjuru. Kelelawar - kelelawar ini bergerak meninggalkan sarangnya, ibarat serdadu yang akan berangkat ke medan perang, terdengar suara gemuruh menutupi langit kota ini. Menjelang pagi, sebelum sinar matahari tersibak, kelelawar - kelelawar ini kembali ke pohon - pohon yang telah dijadikan sarang. Begitulah kelelawar - kelelawar ini melakukan aktivitasnya setiap malam.
Kota Soppeng terletak 174 kilometer dari Kota Makassar. Kota ini terletak di kawasan ketinggian. Makanya jalan - jalan tidak datar, melainkan ada pendakian dan penurunan. Bahkan sejumlah kantor instansi pemerintah atau pun rumah warga berada di puncak-puncak bukit. Pemandangan khas Kota Soppeng ini semakin menarik dengan kehadiran kelelawar - kelelawar yang bergelantungan di hampir setiap pohon yang tumbuh di Kota Soppeng sebagai sarang mereka.
Kelelawar telah menjadi pemandangan yang lazim bagi masyarakat Kota Soppeng. Bagi masyarakat setempat kehadiran binatang malam ini sudah dianggap biasa, tidak ada yang istimewa. Kehadiran kelelawar di Kota ini sulit diprediksi sejak kapan, karena setiap warga kota ini ditanya tentang sejak kapan kehadiran kelelawar tersebut, rata - rata menjawab, tidak tahu. Bahkan mereka mengatakan sejak kecil kelelawar - kelelawar itu sudah ada.
Kisah kehadiran kelelawar ini di Kota Soppeng menjadi ragam cerita. Dari yang bersifat magis sampai yang berbau tahayul. Namun semuanya menambah khazanah keunikan kehadiran kota kelelawar tersebut. Bagi masyarakat kota soppeng, kehadiran kelelawar tersebut sebagai penjaga kota. Konon, leluhur kelelawar ini pernah membuat perjanjian kepada raja soppeng untuk menjaga kota ini dengan syarat para penghuni kota dilarang mengusiknya, Sebab kapan mereka digannggu , akan meninggalkan kota ini.
Pernah kelelawar - kelelawar ini terusik. Salah satu pohon asam besar (tempat kelelawar bergelantungan) yang terletak di kota soppeng ditebang karena sudah terlalu besar dan dinilai dapat membahayakan arus kendaraan yang melintas di bawahnya. Akibatnya kelelawar - kelelawar itu bersatu pergi dalam waktu yang cukup lama. Kelelawar - kelelawar itu baru kembali setelah para pembesar kerajaan meminta kepada sejumlah supranatural membuat acara ritual memanggil kembali kelelawar - kelelawar itu dan berjanji tidak akan mengusiknya lagi. Usai upacara ritual, tidak beberapa lama kemudian, kelelawar - kelelawar itu kembali menghuni pohon - pohon di kota soppeng.
Selain mereka menjaga juga akan memberi pesan - pesan tersirat tentang kemungkinan terjadi hal - hal yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari, minggu, atau bulan di wilayah kerajaan.
Sebuah cerita, pernah kelelawar - kelelawar ini pergi meninggalkan kota soppeng dalam waktu yang cukup lama. Para penghuni kota menjadi heran, ada apa gerangan. Tidak lama kemudian terjadi bencana kebakaran yang besar menimpa kota soppeng. Cerita lain, dan terjadi dahulu kala, kelelawar - kelelawar yang berjumlah ribuan ini meninggalkan kota soppeng, ternyata ada serbuan musuh yang menyerbuh kerajaan soppeng.
Bahkan bagi mereka yang belum punya jodoh, kotoran kelelawar dipercaya bisa menjadi tanda bakal seseorang mendapat jodoh. Misalnya seorang gadis yang tengah berjalan kemudian kejatuhan kotoran kelelawar, tidak lama kemudian jodoh pun akan datang. Kepercayaan ini banyak dianut masyarakat, lantaran sudah banyak kejadian yang membuktikanya. Soal jodoh adalah ketentuan Allah SWT, tapi kejatuhan kotoran kelelawar adalah tanda datangnya jodoh itu. Memang kehadiran kelelawar yang banyak memberikan isyarat atau simbol kadang menjadi pembicaraan khusus lantaran ketepatan ramalannya. Tentu, hal ini tergantung pada keyakinan : Boleh percaya boleh tidak.
Nah.. , begitu memasuki wilayah Kota Soppeng maka akan diperhadapkan pada menyengat khas kelelawar. Ditambah.dengan pemandangan kelelawar - kelelawar yang tengah tertidur sambil bergelantungan di dahan - dahan pohon, seakan tidak terusik dengan ramainya manusia manusia yang di sibukkan oleh aktivitas keseharian.
Begitu rembang petang menuju malam, kelelawar - kelelawar ini mulai terbangun dari tidurnya dan siap mengepakkan sayap terbang mencari makan ke berbagai penjuru. Kelelawar - kelelawar ini bergerak meninggalkan sarangnya, ibarat serdadu yang akan berangkat ke medan perang, terdengar suara gemuruh menutupi langit kota ini. Menjelang pagi, sebelum sinar matahari tersibak, kelelawar - kelelawar ini kembali ke pohon - pohon yang telah dijadikan sarang. Begitulah kelelawar - kelelawar ini melakukan aktivitasnya setiap malam.
Kota Soppeng terletak 174 kilometer dari Kota Makassar. Kota ini terletak di kawasan ketinggian. Makanya jalan - jalan tidak datar, melainkan ada pendakian dan penurunan. Bahkan sejumlah kantor instansi pemerintah atau pun rumah warga berada di puncak-puncak bukit. Pemandangan khas Kota Soppeng ini semakin menarik dengan kehadiran kelelawar - kelelawar yang bergelantungan di hampir setiap pohon yang tumbuh di Kota Soppeng sebagai sarang mereka.
Kelelawar telah menjadi pemandangan yang lazim bagi masyarakat Kota Soppeng. Bagi masyarakat setempat kehadiran binatang malam ini sudah dianggap biasa, tidak ada yang istimewa. Kehadiran kelelawar di Kota ini sulit diprediksi sejak kapan, karena setiap warga kota ini ditanya tentang sejak kapan kehadiran kelelawar tersebut, rata - rata menjawab, tidak tahu. Bahkan mereka mengatakan sejak kecil kelelawar - kelelawar itu sudah ada.
Kisah kehadiran kelelawar ini di Kota Soppeng menjadi ragam cerita. Dari yang bersifat magis sampai yang berbau tahayul. Namun semuanya menambah khazanah keunikan kehadiran kota kelelawar tersebut. Bagi masyarakat kota soppeng, kehadiran kelelawar tersebut sebagai penjaga kota. Konon, leluhur kelelawar ini pernah membuat perjanjian kepada raja soppeng untuk menjaga kota ini dengan syarat para penghuni kota dilarang mengusiknya, Sebab kapan mereka digannggu , akan meninggalkan kota ini.
Pernah kelelawar - kelelawar ini terusik. Salah satu pohon asam besar (tempat kelelawar bergelantungan) yang terletak di kota soppeng ditebang karena sudah terlalu besar dan dinilai dapat membahayakan arus kendaraan yang melintas di bawahnya. Akibatnya kelelawar - kelelawar itu bersatu pergi dalam waktu yang cukup lama. Kelelawar - kelelawar itu baru kembali setelah para pembesar kerajaan meminta kepada sejumlah supranatural membuat acara ritual memanggil kembali kelelawar - kelelawar itu dan berjanji tidak akan mengusiknya lagi. Usai upacara ritual, tidak beberapa lama kemudian, kelelawar - kelelawar itu kembali menghuni pohon - pohon di kota soppeng.
Selain mereka menjaga juga akan memberi pesan - pesan tersirat tentang kemungkinan terjadi hal - hal yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari, minggu, atau bulan di wilayah kerajaan.
Sebuah cerita, pernah kelelawar - kelelawar ini pergi meninggalkan kota soppeng dalam waktu yang cukup lama. Para penghuni kota menjadi heran, ada apa gerangan. Tidak lama kemudian terjadi bencana kebakaran yang besar menimpa kota soppeng. Cerita lain, dan terjadi dahulu kala, kelelawar - kelelawar yang berjumlah ribuan ini meninggalkan kota soppeng, ternyata ada serbuan musuh yang menyerbuh kerajaan soppeng.
Bahkan bagi mereka yang belum punya jodoh, kotoran kelelawar dipercaya bisa menjadi tanda bakal seseorang mendapat jodoh. Misalnya seorang gadis yang tengah berjalan kemudian kejatuhan kotoran kelelawar, tidak lama kemudian jodoh pun akan datang. Kepercayaan ini banyak dianut masyarakat, lantaran sudah banyak kejadian yang membuktikanya. Soal jodoh adalah ketentuan Allah SWT, tapi kejatuhan kotoran kelelawar adalah tanda datangnya jodoh itu. Memang kehadiran kelelawar yang banyak memberikan isyarat atau simbol kadang menjadi pembicaraan khusus lantaran ketepatan ramalannya. Tentu, hal ini tergantung pada keyakinan : Boleh percaya boleh tidak.
Senin, 28 Januari 2013
Teguran tanpa kata
Dua orang angkuh
jumpa di satu pesta
hingga saat berpisah
tidak bertegur sapa
tapi mereka saling melirik
menakar keangkuhan masing-masing
pulang ke rumah
mereka tak bisa lagi membantah
antara mereka
telah terjalin
semacam tegur sapa
tanpa kata-kata
demikianlah
dua orang angkuh
bertemu
dalam rindu
yang semakin dibunuh
semakin tumbuh
siapa yang kalah
siapa yang mulai menyerah
tak ada yang bisa menebak
jumpa di satu pesta
hingga saat berpisah
tidak bertegur sapa
tapi mereka saling melirik
menakar keangkuhan masing-masing
pulang ke rumah
mereka tak bisa lagi membantah
antara mereka
telah terjalin
semacam tegur sapa
tanpa kata-kata
demikianlah
dua orang angkuh
bertemu
dalam rindu
yang semakin dibunuh
semakin tumbuh
siapa yang kalah
siapa yang mulai menyerah
tak ada yang bisa menebak
Minggu, 20 Januari 2013
Pete - pete di ujung nostalgia
Daeng Naya duduk lesu pada siang
yang berangin itu. Sesekali ia turut berteriak, “Hidup rakyat!” saat
Korlap aksi dan teman-temannya membakar semangat untuk bertahan. Daeng
Naya ‘cuti’ menyupir demi bersolidaritas untuk menolak kebijakan
Rektorat Unhas.
“Bagaimana anak istrita’ hari ini, pak?” tanya saya.
Ia tersenyum. “Nda tau mi juga, dek…,” jawabnya, mengisap rokok.
Daeng Naya, pria tua telah menjadi supir
pete-pete sejak tahun 1970-an. Daeng Naya dan puluhan supir pete-pete
kampus berunjuk rasa di Rektorat Unhas pada Kamis (10/1) lalu. Banjir di
sejumlah tempat di Makassar
baru saja surut. Para supir dengan beberapa organisasi kemahasiswaan
menggelar aksi protes atas kebijakan sepihak Rektorat Unhas yang telah
mengalihkan jalur trayek kampus Unhas.
Para supir protes kebijakan Rektorat Unhas.
Sejak berlaku 2 Januari 2013 ini,
pete-pete trayek kampus tidak lagi dengan rute lamanya: masuk Pintu Satu
Unhas, keliling jalan lingkar kampus, lalu keluar melalui Pintu Dua.
Peraturan baru mengharuskan setiap pete-pete masuk melalui Pintu Satu,
singgah di halte dekat Workshop di bagian barat kampus, lalu balik
melalui Pintu Nol. Di halte, mahasiswa disuruh memilih untuk jalan kaki,
naik sepeda, atau naik bus untuk sampai ke fakultas masing-masing.
Banyak pihak mengeluh. Tidak hanya supir
pete-pete, para mahasiswa pun banyak yang tidak setuju dengan keputusan
pengalihan ini. Ikhwalnya, jarak antara terminal baru dan
fakultas-fakultas (selain teknik, MIPA, dan Farmasi) cukup menguras
peluh. Pilihannya: naik shuttle bus atau sepeda kampus. Naik
shuttle bus artinya harus menunggu bus yang jumlahnya hanya enam buah
(walaupun dalam pengamatan saya hanya empat yang selalu beroperasi).
Karena armada yang terbatas, maka waktu menunggu cukup lama. Apalagi
pada jam padat seperti pagi dan sore. Di dalam bus, orang bisa saja
dempet-dempet.
Bersepeda pun sulit. Di musim hujan
seperti sekarang, pilihan naik sepeda menjadi sangat konyol. Selain itu,
fasilitas pendukung seperti trayek khusus sepeda dan tempat parkir
sepeda tidak tersedia. Ditambah kenyataan bahwa tipe sepeda yang
disediakan Unhas sama sekali bukan tipe sepeda keranjang yang
fungsional. Sepeda yang ada hanyalah jenis full-bike yang lebih sering dipakai untuk olahraga sore atau kegiatan fun-bike.
Belum lagi nasib masyarakat sekitar
Unhas (warga Kera-Kera dan sekitarnya) yang tidak tahu lagi harus
bagaimana untuk masuk keluar kampus. Dengan rute ‘tradisional’, warga
yang menuju ke pasar (biasanya ke Pasar terong)
hanya sekali naik pete-pete–tanpa perlu ganti trayek dan, terutama,
bongkar-muat barang bawaan. Begitupun bagi anak-anak sekolah dari
permukiman itu kebanyakan bersekolah di Jalan Perintis Kemerdekaan.
Sekali naik, mereka turun depan sekolah. Kini?
Rambu larangan bagi pete-pete.
Belum jelas alasan dari Rektorat Unhas
menerapkan pengalihan rute ini. Dalam banyak kesempatan pihak Unhas
hanya selalu mengatakan bahwa ini adalah demi kenyamanan dan keamanan
kampus. Harapannya, kampus bebas pete-pete, jalanan kampus tidak
semerawut, suasana lebih asri, dan parkiran depan RS Wahidin yang
biasanya macet dapat lancar dan bebas pete-pete. Menuju kampus yang Green, Healthy, Saver—menuju universitas top kelas dunia. Keren mungkin kedengarannya. Tapi apa selesai sampai di situ?
Masa ‘Mesra’ Kampus & Pete-Pete
Sekitar tahun 1978-1979, ketika baru
selesai dibangun, Unhas Tamalanrea masih bangunan-bangunan kecil di
tengah hutan dan rawa. Masa itu, sebagian besar mahasiswa masih
berdomisili di Kampus Lama Baraya. Untuk ke kampus yang baru,
pete-pete-lah yang menjadi pilihan. Kala itu, belum ada sistem trayek
seperti sekarang (masih memakai sistem 11 trayek). Ada mahasiswa
dijemput di rumah masing-masing lalu ke Tamalanrea. Ada juga mahasiswa
yang ke Pasar sentral
dulu, lalu mencari pete-pete yang mau mengantar mereka hingga Kampus
Tamalanrea. Supir dan mahasiswa sangat akrab. Tak jarang para supir yang
juga akrab dengan orangtua mahasiswa.
Karena jalanan dan bangunan yang belum
sebaik sekarang, para supir biasanya menurunkan mahasiswa di depan
kampus (Jalan Perintis Kemerdekaan). Untuk ke fakultas, mahasiswa jalan
kaki. Setiap hari begitu. Banyak yang mengeluh karena letak fakultas
mereka jauh atau karena hujan yang mengguyur.
Hingga suatu hari, seorang dosen
fakultas hukum, Pak Ali Abbas berinisiatif untuk melobi beberapa supir
dari Sentral yang bersedia mengantar penumpang (juga dosen) masuk hingga
fakultas-fakultas.
“Rektor sendiri pada waktu itu yang
suruh mahasiswa untuk cari pete-pete, karena bukan anak SD ini yang
dibawa, calon pejabat semua,” kenang Daeng Naya.
Akhirnya dengan negosiasi yang saling
menguntungkan, mulai saat itu 50 sopir siap mengantar para penumpang
Kampus Merah hingga ke fakultas tujuan. Mereka kemudian membentuk sebuah
organisasi kecil untuk trayek Unhas Tamalanrea yang disetujui oleh
Rektor, Walikota, Gubernur, dan Kapolda pada masa itu.
Seiring waktu, semakin banyak pete-pete
dengan trayek berbeda-beda masuk kampus. Untuk menghimpun para supir
trayek Kampus, maka didirikanlah Koperasi Angkutan Mahasiswa dan Umum
(KAKMU) yang memiliki tugas untuk mengorganisir trayek dan menarik
retribusi Rp3.000/pete-pete setiap hari. Jumlah itu disetor juga ke
Unhas. Biaya perizinan trayek adalah 35 juta/pete-pete. Jumlah yang
cukup besar, namun supir dan pemilik kendaraan tidak pernah
mempermasalahkan hal tersebut. Bagi mereka, Unhas tetap menjadi lahan
yang tidak pernah sepi penumpang. Unhas telah menjadi ‘kampus’ bagi
mereka untuk menyambung hidup. Hingga hari ini, terdapat sebanyak 421
pete-pete yang mondar-mandir masuk Unhas.
Di titik ini, Unhas punya utang sejarah atas jasa pete-pete dan para supirnya yang melayani mahasiswa—juga masyarakat sekitar Unhas.
Dalam dan Luar Kampus
Bukan sekadar menjadi ‘utang’ sejarah
bagi mahasiswa dan Unhas, pete-pete di Unhas merupakan simbol
keberpihakan kepada rakyat kecil. Setiap dari 421 pete-pete kampus,
biasanya digawangi oleh 3 supir (supir utama, supir cadangan, dan supir
tembak). Ini berarti ada 1200-an orang yang menggantungkan hidup pada
mobil plat kuning ini. Dengan rata-rata penghasilan satu pete-pete Rp.
300.000- Rp400.000/hari, itu berarti ada Rp126-168 juta uang yang
berputar tiap hari. Dengan uang setoran Rp200.000/ hari, satu pete-pete
rata-rata memperoleh pemasukan bersih Rp100.000-200.000/hari. Jumlah itu
kemudian dibagi dengan persenan supir-supir dari pete-pete tersebut.
Dari jumlah pendapatan itu, sebagian
besar ‘disumbangkan’ oleh para penumpang yang turun di dalam dan dari
kampus. Karena di luar kampus (dari Jalan Perintis Kemerdekaan hingga
Jalan Urip Sumihardjo) persaingan mencari penumpang begitu ketat. Ada
pete-pete dari trayek Daya-Sudiang dan BTP yang berebut mencari
penumpang. Meminjam terma teori ekonomi klasik, trayek untuk bisa
mengantar dan menjemput penumpang dari dalam kampuslah yang menjadi
“keunggulan komparatif” pete-pete trayek kampus dibanding pete-pete
trayek lain.
Namun malang, semenjak rute baru dalam
Kampus Unhas diterapkan, para supir mengaku pendapatan mereka berkurang
40-60 persen. Marwan, salah seorang supir mengeluh, setiap hari ia kini
hanya bisa mengantongi 30-50ribu selama jam dinasnya. “Padahal dulu bisa
ji dapat 80 ribu sampai lebih 100 ribu,” tambahnya. Dengan
berkurangnya penghasilan, ia tidak tahu lagi bagaimana menombok
kebutuhan hidup istri dan ketiga anaknya. Belum lagi cicilan motor yang
baru setahun. Banyak supir lain yang bernasib serupa.
Bagi mereka ke(tidak)bijakan rektorat
mengubah rute trayek dalam kampus ini sama saja mencekik leher mereka.
Leher rakyat kecil yang sudah megap-megap mencari uang untuk hidup.
Padahal, meski selalu dituding sumber kemacetan, tidak terhitung jasa
pete-pete bagi kampus yang selalu mengaku sebagai kampus terbaik di
Indonesia Timur ini.
“Dulu kami sama-sama bangun ini kampus. Bayangkan mi berapa
banyak orang yang sarjana dengan pete-pete. Sekarang, kami mau diusir
keluar kampus,” tutup Daeng Naya sembari mematikan rokok terakhirnya.[]
sumber : http://makassarnolkm.com/pete-pete-kampus-di-ujung-nostalgia/
Selasa, 15 Januari 2013
"SIMFONI LIRIH"
Buram kaca Jendela, Seburam Bingkai Hati Terdalam....
Langkahpun Terhenti, Walau Penghujung Jalan Belum Tergapai
Ikrar Tentang Pijak Yg Tak Seiring Lagi Dalam Menapak........
Adalah Lolong Serigala Dibelantara Tak Bertuan..........
Kubisik Sukma Yg Lara Nan Galau................
Jangan Pernah Hadirkan Takut Kan Kesendirian
Karena Hadirmu di Persada Tercipta Dengan Kesendirian...
Dan Kelak Pergimupun Kan Sendiri.....................
Simfoni Terdengar Sayup Kian Lirih........
Kutersadar Dalam Keyakinan Bathin....
Bahwa HIDUP itu Bukanlah PILIHAN
Namun HIDUP adalah Sebuah KETENTUAN......
(Makassar di penghujung malam)
Langkahpun Terhenti, Walau Penghujung Jalan Belum Tergapai
Ikrar Tentang Pijak Yg Tak Seiring Lagi Dalam Menapak........
Adalah Lolong Serigala Dibelantara Tak Bertuan..........
Kubisik Sukma Yg Lara Nan Galau................
Jangan Pernah Hadirkan Takut Kan Kesendirian
Karena Hadirmu di Persada Tercipta Dengan Kesendirian...
Dan Kelak Pergimupun Kan Sendiri.....................
Simfoni Terdengar Sayup Kian Lirih........
Kutersadar Dalam Keyakinan Bathin....
Bahwa HIDUP itu Bukanlah PILIHAN
Namun HIDUP adalah Sebuah KETENTUAN......
(Makassar di penghujung malam)
Bumi Lakipadada
Untuk pertama kalinya mengijakkan kaki di bumi lakipadada setelah lama mengidam - idamkan kota ini lewat cerita seorang teman yang kadang membuat hati iri dengan segudang cerita yang di pikul pulang mulai dari keindahan panorama alammnya hingga cerita mistik, sampai akhirnya kakiku kulangkahkan ke daerah primadona wisata Sulawesi Selatan yang juga dijuluki surganya wisata alam budaya. Ternyata bukan cerita dongeng belaka kalau Tana Toraja memang benar indah dengan panorama alamnya seindah senyum para gadis gadis pribumi Tana toraja.Dalam hati berbisik "inilah kota yang akan membuatku jatuh cinta" hingga
akhirnya saya memutuskan untuk menetap selama seminggu di rumah seorang
teman di Rantepao Toraja Utara. Mengunjunggi objek wisata di bumi
lakipadada menjadi agenda utama dalam perjalananku kali,
Mulai dari Londa daerah bukit batu yang di jadikan kuburan desa oleh masyarakat setempat yang didalamnya banyak diletakkan peti mati bahkan ada yang digantung di tebing, selanjutnya Ke'te kesu yang juga dijadikan pusat kegiatan atau pesta adat di tempat ini juga berdiri deretan rumah adat yang di sebut tongkonan tua, konon katanya tongkonan yang ada di sini sudah berusia kurang lebih 400 tahun. Ke'te kesu adalah potret kehidupan komunal tradisional masyarakat toraja karena merupakan area dimana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi dengan lumbung padi, area upacara pemakaman dan tempat pertemuan adat. Tongkonan-tongkonan itu lengkap dengan ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun dimuka. Dan yang tak terlewat olehku adalah Batu tumonga tempat ini terletak di daerah sesean dengan ketinggian 1300 Mdpl, menawarkan pemandangan alam yang begitu memanjakan indera penglihatan dan membuat hati terpesona. Tak jauh dari tempat ini setelah menyusuri jalan yang cukup mendaki di ujung jalan yang cukup sunyi dan jauh dari pemukiman penduduk terdapat sebuah kuburan batu yang sedang di sedang kerja oleh beberapa penduduk setempat untuk mempersiapkan lubang bagi orang yang telah meninggal dunia dan akan di kuburkan di tempat tersebut, karena rasa ingin tahu lebih jauh dari tempat ini aku sedikit mencuri waktu di sela-sela pekerjaan mereka, dengan menawarkan sebatang rokok untuk memulai obrolan akhirnya seorang bapak menerimanya sambil bercerita banyak tempat tersebut mulai dari penggalian lubang sampai penguburan mayat dan banyak lagi yang dia ceritakan oleh bapak yang lupa aku tanya siapa namanya.
Sungguh daerah yang unik pantas saja orang - orang menyebutnya surganya wisata alam dan budaya, layaknya lirik lagu "Ada cinta di Toraja"
Mulai dari Londa daerah bukit batu yang di jadikan kuburan desa oleh masyarakat setempat yang didalamnya banyak diletakkan peti mati bahkan ada yang digantung di tebing, selanjutnya Ke'te kesu yang juga dijadikan pusat kegiatan atau pesta adat di tempat ini juga berdiri deretan rumah adat yang di sebut tongkonan tua, konon katanya tongkonan yang ada di sini sudah berusia kurang lebih 400 tahun. Ke'te kesu adalah potret kehidupan komunal tradisional masyarakat toraja karena merupakan area dimana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi dengan lumbung padi, area upacara pemakaman dan tempat pertemuan adat. Tongkonan-tongkonan itu lengkap dengan ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun dimuka. Dan yang tak terlewat olehku adalah Batu tumonga tempat ini terletak di daerah sesean dengan ketinggian 1300 Mdpl, menawarkan pemandangan alam yang begitu memanjakan indera penglihatan dan membuat hati terpesona. Tak jauh dari tempat ini setelah menyusuri jalan yang cukup mendaki di ujung jalan yang cukup sunyi dan jauh dari pemukiman penduduk terdapat sebuah kuburan batu yang sedang di sedang kerja oleh beberapa penduduk setempat untuk mempersiapkan lubang bagi orang yang telah meninggal dunia dan akan di kuburkan di tempat tersebut, karena rasa ingin tahu lebih jauh dari tempat ini aku sedikit mencuri waktu di sela-sela pekerjaan mereka, dengan menawarkan sebatang rokok untuk memulai obrolan akhirnya seorang bapak menerimanya sambil bercerita banyak tempat tersebut mulai dari penggalian lubang sampai penguburan mayat dan banyak lagi yang dia ceritakan oleh bapak yang lupa aku tanya siapa namanya.
Sungguh daerah yang unik pantas saja orang - orang menyebutnya surganya wisata alam dan budaya, layaknya lirik lagu "Ada cinta di Toraja"
Saat ku kekotamu
Hatiku terpesona
Indah panorama alammu
Seindah manis senyummu
Oh ... kau hadir disisiku
Menuntun langkahku
Kau lembut ramah penuh kasih
Kau belaiku di Batu Tumonga
Ada cinta diantara kita
Wo wo ... ingin lagi ke kotamu
Menikmati belaian tanganmu
di Tana Toraja indah ...
Kau hadir disisiku
Menuntun langkahku
Kau lembut ramah penuh kasih
Kau belaiku di Batu Tumonga
Ada cinta diantara kita
Wo wo ... ingin lagi ke kotamu
Menikmati belaian tanganmu
di Tana Toraja indah ...
Ada cinta diantara kita
Wo wo ... ingin lagi ke kotamu
Menikmati belaian tanganmu
di Tana Toraja indah ...
MENAKSIR PAGI
Berbatang batang rokok aku menantimu
Aku menaksir pagi
Rinduku telah menggunung
Rasaku tak sanggup ku bendung lagi
Aku menaksir pagi
Jumat, 04 Januari 2013
Catatan Penghujung Tahun
Ada yang berbeda di penghujung tahun kali ini, tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Jauh dari hiruk pikuk Ibu kota, suara bising knalpot, suara petasan dan suara terompet menyambut datangnya tahun yang baru tak ku temui di penghujung tahun ini. Aku bersama teman-teman yang kebetulan memiliki hobbi yang sama memilih menutup tahun ini di puncak gunung "BAWAKARAENG".
Banyak rintangan yang kami lalui untuk mencapai puncak tertinggi ke-2 di sulawesi selatan setelah puncak rante mario, melawan derasnya hujan, menebus hutan berlumut dan licin, sampai melawan dahsyatnya badai air di bulu sarobayya tak sedikit menyurutkan langkah kami sampai menginjakkan kaki di Puncak Bawakaraeng.
Setelah melalui berbagai rintangan, akhirnya kami tiba di puncak bawakaraeng. Rasa letih sepanjang perjalanan yang hinggap di tubuh akhirnya terobati oleh indahnya pemandangan alam puncak bawakaraeng, berdiri di negeri atas awan memberikan kepuasan batin tersendiri, ini mungkin bisa membuat iri bagi orang-orang yang belum pernah merasakan indahnya panorama di puncak-puncak nun jauh disana.
Tahun sebentar lagi akan berganti, memulai lembar-lembar baru di puncak bawakaraeng berteman dengan kicau burung-burung malam, suara jangkrik, dan berselimut kabut tipis telah menjadi penyempurna di penghujung tahun dan akan jadi rindu yang terus menggelitik sampai ku datangi kembali.
Banyak rintangan yang kami lalui untuk mencapai puncak tertinggi ke-2 di sulawesi selatan setelah puncak rante mario, melawan derasnya hujan, menebus hutan berlumut dan licin, sampai melawan dahsyatnya badai air di bulu sarobayya tak sedikit menyurutkan langkah kami sampai menginjakkan kaki di Puncak Bawakaraeng.
Tahun sebentar lagi akan berganti, memulai lembar-lembar baru di puncak bawakaraeng berteman dengan kicau burung-burung malam, suara jangkrik, dan berselimut kabut tipis telah menjadi penyempurna di penghujung tahun dan akan jadi rindu yang terus menggelitik sampai ku datangi kembali.
Langganan:
Postingan (Atom)
