Rabu, 15 Februari 2012

EKSKAVASI


Rasa ingin tahu itu mungkin seperti seseorang menemu
buku harian kekasihnya, mencari rahasia yang tak diceritakan padanya
menggelitik

Rasa ingin tahu itu barangkali seperti seseorang menanti
mati, meraba-raba siapa yang akan menerkam dari balik kegelapan
menggelisahkan

Rasa ingin tahu itu adalah perasaan kita saat melakukan penggalian
pertama, lalu mendapati cangkang kerang dan cawan yang telinganya hilang
menggembirakan

Aku tertawa kecil sambil melempar kerikil ke kakimu saat kau bilang
mungkin seperti ini perasaan Reinhard ketika berjumpa dengan Juanita*
gadis rapuh yang sekaligus begitu kuat melewati tahun-tahun yang berat
meski tak ia lihat salju telah menjadi balok es di Nevado Ampato

Kukatakan, para penggali akan selalu datang untuk mencuri kisah
yang hendak disembunyikan bumi, kemudian menuliskannya di buku tua mereka
menghidupkan cerita tentang tulang belulang yang pernah
menjadi penguasa ataupun sahaya pada suatu kala

“Siapakah yang paling berhak atas masa lalu?”

Sejak itu, kau lebih sering menggali mencari Juanitamu sendiri
dan aku lebih sering menimbun rindu yang semakin merimbun
Sementara cangkang kerang telah menjadi artefak
atas sejumlah kenang yang pernah kita catatkan di bukit kapur itu

Setelah kau menemukannya, bolehlah kau bertanya padaku
“Siapakah yang paling berhak atas masa lalu?”




*Johan Reinhard, arkeolog yang menemukan mumi anak perempuan pertama pada tahun 1995 di Peru, Amerika Selatan.

Kamis, 09 Februari 2012

Indah panorama alam mu




Sore itu cuaca kota makassar tau mau kompromi, hujan pun turun dengan derasnya bergandengan bersama angin kencang. Sembari menunggu hujan kami pun packing dan mendata perlengkapan yang akan kami pada petualangan kali ini.Langit sudah mulai gelap tapi hujan pun tak kunjung reda seakan tak mengizinkan kami untuk berpetualang.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WITA, setelah berbincang-bincang akhirnya kami memutuskan untuk berangkat menuju desa tompo bulu kab.pangkep yang berjarak kurang lebih 70 km dari kota Makassar.Dengan mengendarai sepeda motor kami pun berlalu,ditengah jalan hujan pun semakin menjadi-jadi tak sedikit mau memberi belas kasihan dan terus mengguyur tetapi itu tak menyurutkan langkah ketujuh anak muda ini.Setelah melewati perjalan yang cukup mendaki dan terjal disertai hujan akhirnya kami pun tiba di desa tompobulu pada pukul 23.30, salah seorang dari kami langsung melapor ke pos penjagaan Taman nasional wisata Bulusaraung dan mengurus administrasi, ada sedikit tanya yang terlintas dipikiranku "Memang kalau mau mendaki gunung ini harus bayar yah ?? " Entalah mungkin itu sudah menjadi pendapatan daerah dari kawasan taman nasional setempat. Urusan administrasi telah selesai, kami pun diizinkan untuk mendaki gunung, karena malam itu cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan pendakian serta keterbatasan Head Lamp dan Senter akhirnya kami memutuskan menginap di Balai desa dan melakukan pendakian keseokan harinya.Susana Desa Tompobulu malam itu sangat hening dan terasa damai jauh dari bising knalpot roda dua dan empat, ditemani segelas kopi dan sebatang rokok kunikmati suasana malam desa itu damai rasanya aku berada di tempat ini, kopi sudah habis aku pun memutuskan untuk tidur dengan berlaskan lantai balai desa dan berselimutkan Slepping Bag aku bersama ke enam saudara-saudaraku tertidur lelap serasa tidur di hotel berbintang.
Malam telah berlalu sinar surya mulai menamppakan cahaya membangunkanku dari tidur,ternyata k'tope yang menjadi pemimpin petualangan ini sudah bangun lebih dulu mempersiapakan keperluan yang akan dibawa ke puncak, kami pun diarahkan untuk kembali packing sebelum melakukan pendakian dan masing-masing memeriksa barang bawaan dari dalam carrier. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WITA kami bergegas dari balai desa, Kali ini Asmin yang ditunjuk menjadi leader oleh k'tope dan memipin doa sebelum berangkat ke puncak serta memberi arahan kepada kami pendaki pemula.

Dengan segudang semangat yang menggebu-gebu kami pun berangkat dari depan pos penjagaan bulusaraung menuju pos 1 melewati perkebunan rakyat dan pematang sawah, langkah demi langkah membawa kami tiba di pos 2 melalui lereng yang mulai sedikit mendaki dengan pamandangan yang cukup menyegakan indera penglihatan. Rasa lelah sedikit demi sdikit mulai menghinggapiku, medan menuju ke pos 3 sangat menguras tenagaku mencapai kemiringan 80 derajat, kakiku semakin lambat melangkah ditambah lagi beban dalam carrierku semakin berat saja rasanya ingin kubuang jauh carrier ini , dalam perjalanan kadang timbul penyesalan dipikiranku "andainya aku tidak ikut dalam pendakian ini " kaki yang terasa berat ini terus kulangkahkan hingga membawaku tiba di pos 3, setibanya disana kami pun beristirahat sejenak dan meneguk sedikit air.Leader kembali memberi aba-aba untuk melanjutkan perjalan, kaki pun kembali melangkah rasanya betisku mau meledak menelusuri hutan belantara dan dan medan yang terus mendaki membuat nafasku  terengah-engah, penglihataku pun mulai gelap. Setelah tiba di pos 4 dan meregangkan otot kaki, perjalanan dilanjutkan kembali karena butiran butiran air dari langit mulai turun membasahi perjalanan kami seiringan dengan kencangnya hembusan sang angin. Sedikit memepercepat  langkah melalui pos 5,6,7 dan 8 kami tak memilih lagi untuk beristirahat dan terus melangkah menuju pos selanjutnya. Setibanya di pos 9 kami memutuskan untuk camp disini sambil menunngu cuaca kembali bersahabat, kami pun membagi tugas mendirikan tenda serta mempersiapakan makanan siang ala pendaki gunung dengan lauk seadanya dengan lahapnya makanan itu habis tak tersisa sedikitpun oleh perut perut karet kami, maklum seharian baru isi lambung. Gemercik hujan membuat cuaca semakin dingin sampai menusuk kedalam, rajikan kopi yang kubuat cukup menghangatkan tubuhku bersama saudara-saudaraku ditemani dengan asap rokok yang sangatlah nikmat sampai habis berbatang batang rasanya tak ingin behenti menghisapnya, kecuali izzy yang tak dapat menikmatinya karena hanya dia satu satunya Lady yang ikut dalam perjalanan ini. HAHA..
Hari sudah mulai sore namun hujan enggan untuk menarik diri, rencana untuk mencapai puncak sore ini kami tunda karena masih harus dilalui dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dengan medan yang cukup berat.
Malam mulai menutup dari balik rimbun pepohonan hutan belantara udara dingin terus hinggap ditubuh, satu per satu gelas kopi kuteguk untuk menghangatkanku dari empuknya Slepping Bag. Sedikit senda gurau dan candaan kami yang menambah hangtanya suasana serta suara cangkrik dan serangga lainnya  yang turut meberi suara sumbangnya di balik dinginya malam kemudian mengantar kami kealam tidur.
Waktu terus berlalu jarum jam menunjukkan pukul 06.00 waktu indonesia bagian bulusaraung, sang fajar mulai mengitip dan membangunkanku sebuah pertanda baik untuk mencapai tranggulasi pagi ini. Kami segera bergegas setelah menambah persediaan air dari mata air yang jaranya cukup jauh dari camp, kurang lebih 30 menit aku bersama keenam saudarku berjalan akhirnya tibalah kami dititik tranggulasi puncak bulusaraung. Sungguh indah panorama alam mu kulihat dari ketinngian terbayar semua rasa lelahku yang selama hari kemarin terus menghinngapiku, tak ada kata yang dapat terucap melainkan hanya rasa kagum menatapi betapa indah ciptaanmu.